MANADO – Suasana di Bandara Internasional Sam Ratulangi Manado mendadak riuh dan hangat. Di tengah keramaian calon penumpang dan pengantar, perhatian ratusan pasang mata tertuju pada satu sosok figur yang membumi, yakni Rahman Salehe. pada 12/08/2026.
Kehadiran Salehe di bandara bukan untuk melakukan perjalanan pribadi, melainkan khusus mengantarkan Istri tercintanya dan 53 orang Imam Masjid se-Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim) yang diberangkatkan umroh ke Tanah Suci Mekkah.
Seluruh biaya perjalanan ibadah mulia, bagi para pemuka agama ini bersumber dari kedermawanan pribadi Rahman Salehe, serta para Penambang Tradisional di Kecamatan Kotabunan.
Tindakan nyata, dan kepeduliannya yang luar biasa terhadap para pelayan umat ini, sontak membuat suasana bandara menjadi lebih ramai.
Padahal awalnya suasana sekira pukul 03.00 tersebut, cukup hening, meski ratusan warga tengah memadati halaman bandahara Samratulangi Manado. Hanya terdengar suara kendaraan bolak balik, bunyi roda koper, serta pengumuman informasi penerbangan, atau Boarding Call,
Akan tetapi sekitar pukul 03.30 dini hari , suasana hening tersebut pecah menjadi ramai, bercampur haru setelah sosok Rahman salehe tiba di area bandara.
Ratusan masyarakat se-Boltim, yang terbagi di beberapa desa, mulai dari keluarga para jemaah umroh hingga warga yang tak sengaja berpapasan—berbondong-bondong mendekati Rahman Saeleh.
Keseruan ini muncul secara alami, Ratusan masyarakat hingga para imam yang di berangkatkan langsung bergegas mendekat sembari mengeluarkan ponsel milik warga.
“Pak, Boleh mo ba foto” tanya sejumlah warga yang tak lagi menunggu jawaban dan langsung mendekat dan meminta rekannya untuk di foto.
Rahman Salehe, dengan senyum khas miliknya pun tak tentu tak menolak karena permintaan warga masyarakat yang begitu antusias.
Aksi warga yang memburu foto bersama Rahman bukanlah tanpa alasan. Bagi masyarakat Boltim, Rahman Salehe telah mengukir nama di hati mereka sebagai figur paling dermawan di Boltim.
Keputusannya untuk memberangkatkan 53 imam masjid ke Tanah Suci adalah bukti konkret dari keikhlasan hatinya yang ingin memuliakan para tokoh agama.
“Pak Rahman adalah orang yang paling dermawan di Boltim. Menanggung ibadah umroh untuk 53 imam masjid itu bukan hal kecil, ini bentuk perhatian yang sangat luar biasa untuk para pemimpin sholat kami di kampung-kampung,” ungkap salah seorang pengantar jemaah dengan mata berkaca-kaca.
Menurut warga, kedermawanan Rahman tidak dibuat-buat. Rasa hormat dan kekaguman masyarakat mengalir secara alami karena bukti nyata yang dirasakan langsung oleh umat.
Momen di Bandara Sam Ratulangi hari itu menjadi saksi bisu betapa indahnya hubungan antara seorang figur penderma dan masyarakatnya.
Kilatan lampu kamera ponsel yang terus bergantian menangkap kebersamaan mereka menjadi simbol kebanggaan warga Boltim memiliki sosok seperti Rahman Salehe.
Alasan di balik aksi “rebutan selfie” ini sangat mendalam. Bagi masyarakat Boltim, swafoto bersama Rahman Salehe adalah simbol kebanggaan telah bertemu dengan sosok yang benar-benar ikhlas mengabdi pada umat.
“Kami tidak kagum karena kekayaannya, tapi karena keikhlasannya,” ujar Yono salah satu warga Boltim yang ikut mengantar jemaah umroh.
Pen, salah satu warga Moyongkota mengatakan bahwa sosok Rahman Salehe adalah inspirasi. “Dia membantu dengan ikhlas. Dia memberangkatkan imam umroh agar mereka bisa beribadah dengan tenang dan membawa berkah bagi Boltim. Siapa yang tidak ingin berfoto dengan orang sebaik itu,” tuturnya dengan penuh semangat.
Menghadapi serbuan ratusan warga yang ingin berfoto, Rahman Salehe menunjukkan kelasnya sebagai figur yang dicintai. Tidak nampak sedikitpun kelelahan atau risih di wajahnya. Dengan sabar, Rahman melayani satu per satu permintaan swafoto tersebut.
Setiap kali sebuah ponsel terangkat, Rahman Salehe melempar senyum khasnya yang tulus. Dia bahkan sesekali merangkul bahu warga, memegang ponsel mereka untuk mengambil alih posisi pengambilan gambar agar hasilnya lebih bagus.
Baginya, ratusan swafoto itu bukanlah bentuk pemujaan, melainkan manifestasi dari ikatan batin yang kuat antara dirinya dan masyarakat Boltim. Kedermawanannya telah menciptakan getaran cinta yang begitu kuat, yang hari ini, di Bandara Sam Ratulangi, bertransformasi menjadi ratusan cahaya kilat kamera ponsel yang menangkap momen kebersamaan antara rakyat dan pemimpin yang mereka cintai. (end)
















