KOTAMOBAGU — Setiap prestasi memiliki cerita. Di balik nama yang dipanggil di podium, medali yang dikalungkan, dan bendera yang dikibarkan, ada proses panjang yang tak selalu terlihat.
Cerita itu juga terjadi di SMA Negeri 2 Kotamobagu. Sepanjang 2026, siswa-siswi sekolah tersebut menorehkan sejumlah prestasi di bidang akademik, olahraga, seni hingga kepemimpinan.
Kepala SMA Negeri 2 Kotamobagu, I Ketut Gunawan Adhywisna, mengatakan capaian para siswa tidak lahir dari kerja keras mereka sendiri. Guru dan orang tua memiliki peran penting dalam perjalanan tersebut.
“Tentu prestasi yang diraih siswa-siswi SMA Negeri 2 Kotamobagu tidak lepas dari dukungan para orang tua siswa,” kata Gunawan saat rapat, Kamis (20/8/2026).
Menurut Gunawan, dukungan orang tua menjadi salah satu kekuatan bagi siswa untuk terus berkembang. Sekolah kemudian berusaha menyediakan ruang bagi mereka untuk mengasah kemampuan, termasuk melalui berbagai kegiatan di luar jam pelajaran.
Hasilnya terlihat dari sejumlah capaian yang diraih siswa. Pada 2026, sembilan siswa SMA Negeri 2 Kotamobagu dipercaya menjadi Paskibraka tingkat Kota Kotamobagu. Satu siswa lainnya menjadi wakil Sulawesi Utara.
Di bidang akademik, delapan siswa menembus OSN tingkat Provinsi Sulawesi Utara. Mereka mengikuti bidang Astronomi, Biologi, Ekonomi, Geografi, Informatika, Kebumian, Matematika dan Kimia.
Prestasi juga datang dari berbagai bidang lain.
Siswa SMA Negeri 2 Kotamobagu lolos seleksi Indonesian Student Leadership Training dan seleksi final Elite Pro Academy Garuda Youth FC.
Di bidang olahraga, siswa sekolah tersebut meraih Juara III Komite Junior Putri pada Kejuaraan Turnamen dan Festival Karate Liga IV Jemberi Sulut 2026. Dua siswa juga dipercaya mewakili Sulawesi Utara dalam Turnamen Sepak Bola Nasional Soeratin Cup U-17 2026 di Surabaya, Jawa Timur.
Prestasi lainnya datang dari Referee Penacak Slot Open Championship Sulut 2026 dengan raihan Juara II.
Sementara di bidang seni, siswa meraih Harapan I FLS3N tingkat Provinsi Sulawesi Utara 2026 untuk lomba cipta lagu dan Juara II lomba cipta puisi. Tiga siswa lainnya mengikuti FLS3N pada cabang lomba film pendek.
Di cabang olahraga bela diri, siswa meraih Juara I Kyoguri Junior Cadet Putri serta Juara I O2SN tingkat Provinsi Sulawesi Utara untuk cabang pencak silat putri.
Smandu FC juga membawa nama sekolah dalam ajang Futsal Series di Manado.
Bagi Gunawan, deretan capaian tersebut bukan sekadar angka dalam laporan sekolah. Ada proses yang harus dilalui siswa sebelum sampai ke panggung prestasi.
Ada latihan setelah jam sekolah. Ada guru yang mendampingi. Ada orang tua yang memberi semangat. Dan ada siswa yang harus membagi waktu antara belajar dan mengejar kemampuan di bidang yang mereka sukai.
“Dengan dukungan dari para orang tua siswa, semangat anak-anak juga semakin kuat,” ujarnya.
Prestasi tersebut turut membuat SMA Negeri 2 Kotamobagu semakin diminati.
Pada penerimaan siswa baru tahun ajaran 2026, lebih dari 700 calon siswa mendaftarkan diri. Namun, berdasarkan kuota yang tersedia, hanya 396 siswa yang dapat diterima.
“Yang mendaftar 700 lebih, sedangkan yang diterima berdasarkan kuota hanya 396,” kata Gunawan.
Tingginya jumlah pendaftar menjadi gambaran kepercayaan masyarakat terhadap sekolah tersebut. Namun, bagi Gunawan, kepercayaan itu sekaligus menjadi tanggung jawab untuk terus memperbaiki kualitas pendidikan.
Sebab di balik berbagai prestasi itu, SMA Negeri 2 Kotamobagu masih menghadapi keterbatasan tenaga pengajar.
Gunawan mengatakan sekolah masih kekurangan guru. Kondisi tersebut membuat pihak sekolah harus memaksimalkan sumber daya yang ada agar proses pembelajaran dan pembinaan siswa tetap berjalan.
“Kami masih kekurangan guru. Namun, di tengah kondisi yang terbatas, pelayanan kepada siswa harus tetap dimaksimalkan,” katanya.
Bagi sekolah, prestasi bukan hanya tentang siapa yang berdiri di podium. Lebih dari itu, prestasi adalah tentang proses belajar, keberanian mencoba, kegigihan berlatih dan dukungan orang-orang yang berada di belakang siswa.
Di SMA Negeri 2 Kotamobagu, cerita itu terus berjalan. Guru mengajar, siswa berjuang, sementara orang tua menjadi bagian penting dari perjalanan mereka.
Dan dari proses itulah, satu demi satu prestasi lahir. (*)
















