Jangan Gegabah dan Salah Kaprah tentang PDP

0
83
Kadiskes/Sekretaris Gugus Tugas Covid-19 Bitung, dr Jeaneste Watuna, MKes

FAKTASULUT.COM, Bitung, — Menanggapi viralnya berita tentang penolakan pelaksanaan protokol Covid-19 pemakaman  Pasien Dalam Pengawasan (PDP) oleh kerabat dan keluarganya, Gugus Tugas Covid-19 Kota Bitung melalui Sekretaris Gugus Tugas, dr Jeaneste Watuna, mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan tindakan gegabah dan salah kaprah terhadap masalah ini, karna akan berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat itu sendiri. Hal ini dikatakan Watuna di Balai Pertemuan Umum (BPU) Kantor Walikota Bitung, Selasa (2/6).

Watuna menjelaskan bahwa status PDP akan ditetapkan oleh pihak rumah sakit bila pasien tersebut memiliki gejala yang mengindikasikan Covid-19 diantaranya adanya sesak nafas. “Status PDP belum berarti pasien tersebut sudah positif Covid-19. Pasien akan ditetapkan PDP bila  hasil rapid testnya reaktif, atau  mengalami sesak nafas dan infeksi paru-paru (pneumonia). Dalam kondisi ini, biasanya pasien akan di ambil sampel untuk tes SWAB/PCR untuk memastikan apakah pasien terjangkit Covid-19 atau tidak,” ujar Watuna.

Sayangnya, lanjut Watuna, ada beberapa orang PDP yang sudah meninggal sebelum hasil pemeriksaan PCR/SWAB itu keluar (hasil pemeriksaan SWAB tidak secepat rapid test, biasanya diatas satu hari), dan ini membuat keluarga pasien mengambil kesimpulan bahwa pasien negatif atau bebas Covid-19 dan mengabaikan protokol Covid-19, padahal sudah terbukti dari beberapa kasus, beberapa hari sesudah dimakamkan, ada pasien yang dinyatakan positif Covid-19.

“Apa yang diputuskan oleh Kementerian Kesehatan RI terkait Protokol Covid-19 bagi pasien yang meninggal dalam status PDP adalah bentuk antisipasi dan kewaspadaan terhadap penularan Covid-19.  Ini sudah diatur dalam undang-undang kesehatan nomor 36, dimana bila pasien sudah ditetapkan PDP maka diartikan pasien telah menderita penyakit menular. Bila Pasien dalam kondisi terjangkit  penyakit menular yang membahayakan masyarakat banyak, maka keluarga wajib mengikuti protokol kesehatan yang telah ditentukan demi keselamatan banyak orang,” tegas Watuna

Watuna mengingatkan, kemampuan penularan Covid-19,  76 kali  lebih kuat dari penyakit menular biasa. Hal ini sangat berbahaya jika kerabat  atau keluarga pasien bersentuhan dengan pasien tanpa APD, akan berpotensi tertular dan selanjutnya kerabatnya akan menularkan ke orang lain.

“Karena itu dengan sangat kami meminta pengertian masyarakat,  agar benar-benar memahami kondisi ini. Tidak ada maksud pemerintah untuk mempersulit keluarga. Bila kita semua bersikeras dan mengabaikan protokol kesehatan ini, ada potensi bahaya besar yang mengancam kesehatan masyarakat banyak. Dengan saling memahami dan mendukung, membuktikan cinta kasih kita kepada kerabat dan keluarga kita, bahkan bagi masyarakat pada umumnya,” pungkas Watuna . (Une Filio)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here